Infokejadianmakassarkota.coml MAKASSAR - Malam telah larut. Jarum jam menunjuk ke pukul 24.00 Wita. Dinda dan Bunga (bukan nama sebenarnya), baru saja membungkus nasi goreng bantal naga di Jl Tinumbu, Makassar.
Keduanya kemudian bergegas ke sepeda motor, hendak pulang ke rumahnya, Jl Teuku Umar. Dinda yang menyetir motor, Bunga membonceng di belakang.
Ketika melewati Jl Sapiria, tepatnya di depan kuburan Beruangin, keduanya dicegat seorang pria yang mengendarai sepeda motor.
Teringat peristiwa begal yang menimpa Imran hingga tangannya terputus, Bunga kemudian membisik Dinda.
"Dinda. Kayaknya agak larutmi, sepi mi jalan. Kalau ada orang panggilki di jalan, jangan mi bati-bati (tanggapi). Jalan meki saja, apalagi ndak di kenal ji itu orang. Kita berdua ini juga perempuan," bisik Bunga ke Dinda.
Dinda mengangguk. Makanya, ketika melihat lelaki itu manahan di tengah jalan, Dinda tancap gas.
"Eh...mau ke mana??!!!" teriak lelaki itu.
Dinda melihat di kaca spion, lelaki itu berlari menuju motornya yang terparkir. Dia bergegas menyusul Bunga dan Dinda.
"Kayaknya mauki na ikuti itu orang. Kasi cepatki lari motormu," ujar Bunga.
Dinda mulai panik. Dia kembali tancap gas, sambil sesekali melirik spion. Dia melihat lelaki itu sudah ada di belakangnya.
Lelaki itu mengikuti irama laju sepeda motor Dinda. Ketika sepeda motor Dinda melambat, lelaki itu ikut melambat.
Tiba-tiba, Bunga punya ide. Dia melihat di depan ada penjual baju Distro. Di situ agak ramai, dekat penjual Coto Maros.
"Dinda, berhentiko di penjual Distro," Bunga menepuk pundak Dinda.
Dinda pun mengerem. Bunga turun dari sepeda motor, pura-pura mengecek tekanan angin ban, sambil melirik lelaki yang mengikutinya.
Lelaki itu kemudian melewati Bunga dan Dinda. Dia melihat lelaki itu berjaket agak tebal. Di pinggangnya ada sesuatu yang menonjol. Di pikiran Dinda, itu mungkin senjata tajam. Dinda berusaha melihat ke arah wajahnya. Tetapi tertutup kaca helm, dan scrap. Dia yakin, orang itu dia tidak kenal sama sekali.
Lelaki itu berhenti di depan toko penjual kayu. Di situ gelap dan sepi. Tiba-tiba dari kejauhan, dia melihat lagi ada satu orang, laki-laki berbicara dengan laki-laki yang mengikutinya tadi.
Bunga dan Dinda makin takut. Dia lalu mengambil ponselnya, dan berusaha menelepon temannya (Arfah , yang kemudian mengunggah kisah ini di grup Facebook, L-IKMK). Dia bermaksud meminta bantuan dan memberitahu jika dia takut pulang, karena ada yang mengikutinya.
Beberapa kali Bunga menelepon, namun tak diangkat. Rasa takut makin berkecamuk di benak Bunga dan Dinda. Apalagi, dia teringat jika wilayah yang dia lewati dekat dengan Jl Datuk Ribandang, lokasi pemotongan tangan Imran oleh dua begal.
Bunga dan Dinda kemudian menghampiri seorang bapak di tempat jualan Distro. Bunga melihat ada sekitar 6 orang di tempat Distro itu.
"Pak, bisa minta tolong," Bunga kemudian bicara.
"Iye, kenapaki dek?" tanya seorang bapak.
"Bisa ki antarka pulang," ujar Bunga lagi.
"Kenapa..?? Rusak motor ta kah??" tanya bapak itu lagi.
"Ada orang ikutika. Orang tidak kukenal. Takutka. Nanti na begalka," kata Bunga.
Pria itu kemudian meminta dua temannya naik masing-masing sepeda motor, mengantar Bunga dan Dinda pulang. Satu diminta jalan di depan Bunga dan Dinda, yang satu di belakang.
Tak lupa, pria itu membekali dua temannya dengan balok kayu.
Ketika melihat sepeda motor Bunga dan Dinda melaju kembali, dua lelaki yang diduga begal itu pun mengendarai motornya. Ketika mereka hampir berdekatan di traffic light pertigaan Jl Sunu-Teuku Umar, lelaki dua orang yang dicurigai begal pun berpencar. Satu belok kanan ke Jalan Sunu. Yang satunya belok kiri ke arah tol.
Diduga keduanya mengetahui kalau Dinda dan Bunga, diantar dua lelaki itu. Dinda dan Bunga pun diantar sampai ke depan rumahnya.
"Semoga kisah di atas bisa dijadikan contoh buat kita semua. Jika curiga dengan tindak kejahatan di jalan, berhentilah di tempat yang ramai. Minta tolong kepada orang, atau menelepon keluarga di rumah, teman atau kantor polisi, minta dijemput dan diantar pulang ke rumah. Jangan pernah tinggalkankan lokasi tempat yang ramai, jika belum merasa aman," pesan Arfah dalam postingannya tersebut.
Arfah juga berharap kepada pihak kepolisian sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, agar jalan-jalan yang rawan tindak kejahatan, tetap dipantau. Dia juga meminta warga kota khususnya kalangan menengah ke atas yang telah memasang CCTV di rukonya, agar salah satu CCTV-nya menyorot ke jalan Raya, supaya jika terjadi tindak kejahatan, pelaku dapat segera di identifikasi.
Sebelumnya, Imran (19) mahasiswa teknik asal Enrekang, menjadi korban pembegalan di Jalan Datuk Ribandang II, Kelurahan Lalatang, Kecamatan Tallo Makassar, Senin dini hari (25/11/2018) sekitar pukul 00.15.Wita
Komentar